ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Pengamat Intelijen dan Militer Susaningtyas NH Kertopati : Kualitas Prajurit TNI Harus Sesuai Dengan Era Industri 4.0.

Sabtu, 05 Oktober 2019


Jakarta ZonaXpose.com -  Peringatan HUT ke-74 TNI pada tahun ini sangat bermakna untuk mendukung program pemerintah ke depan. Jargon “SDM Unggul, Indonesia Maju” harus dijabarkan pula oleh internal Markas Besar (Mabes) TNI dan masing-masing matra untuk meningkatkan kapasitas serta kapabilitas prajurit TNI sebagai sumber daya manusia (SDM) yang unggul.

Kualitas prajurit TNI harus unggul dibandingkan dengan prajurit negara-negara lain. Kualitas prajurit harus terus ditingkatkan sejalan dengan era Revolusi Industri 4.0. Proses pendidikan dan latihan di lingkungan TNI harus memanfaatkan teknologi informasi dan digitalisasi agar diperoleh keuntungan organisasi pendidikan berupa efisiensi.

Hal itu dikatakan pengamat militer dan intelijen Susaningtyas NH Kertopati atau yang akrab disapa Nuning di Jakarta, Sabtu (5/10/2019). “Keuntungan lain adalah pengajaran kepada peserta didik atas pemanfaatan teknologi informasi dan digitalusasi dalam penugasan selanjutnya di komando utama (kotama) operasional dan kotama pembinaan,” kata Nuning.

Dikatakan, kualitas prajurit TNI juga harus ditingkatkan untuk mengawaki teknologi militer terkini, seperti pemanfaatan sistem unmanned (tanpa awak), baik berupa robot maupun artificial intelligent, dan cyber defense. Para prajurit TNI harus mampu berinteraksi dengan sesama prajurit yang asalnya 100% manusia, 50% robot, dan bahkan yang berasal 100% robot.

“Oleh sebab itu, sangat penting bagi TNI untuk merekrut para pemuda dan pemudi yang memiliki intelejensi tinggi,” kata Nuning.

Kualitas prajurit TNI berikutnya yang harus ditingkatkan adalah kemampuan akademik, baik di bidang metodologi cara berpikir maupun di bidang komunikasi. Kualitas metodologi cara berpikir secara ilmiah sangat dibutuhkan para prajurit TNI untuk senantiasa menggunakan perspektif yang ilmiah di dalam menyelenggarakan operasi militer.

Sementara, kualitas di bidang komunikasi sangat ditentukan oleh kemampuan menggunakan bahasa-bahasa internasional. Sangat penting bagi prajurit TNI pada level tamtama dan bintara untuk mahir berbahasa Inggris.

Kemudian, para perwira pertama harus mampu berbahasa Inggris dan satu lagi bahasa internasional, seperti bahasa Prancis, Mandarin, dan Spanyol. Sedangkan, para perwira menengah harus mampu berbahasa Inggris dan dua bahasa internasional lainnya.

“Kuncinya hanya satu dalam menyiapkan keunggulan SDM prajurit TNI, yakni semua lembaga pendidikan TNI harus mencapai akreditasi nasional dan internasional,” ujarnya.

Nuning juga mengomentari soal keberadaan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Menurut dia, Kogabwilhan merupakan salah satu sub organisasi TNI yang diaktifkan kembali dengan pertimbangan pencapaian tugas pokok TNI (reaktivasi).

Awalnya, ujar Nuning, Kogabwilhan dibentuk sesuai strategi pertahanan semesta berdasarkan pembagian kompartemen strategis dalam mengimplementasikan strategi itu sendiri. Seiring dengan perjalanan waktu, maka dinamika politik melikuidasi Kogabwilhan dan bahkan mengkonsentrasikan gelar kekuatan TNI di Pulau Jawa (Java centris).

Dengan mencermati perkembangan lingkungan, baik regional maupun global, maka kebutuhan kekuatan TNI harus digelar secara proporsional sesuai dengan eskalasi ancaman. Bahkan, kebutuhan gelar kekuatan TNI juga ditujukan untuk mengantisipasi bencana alam di berbagai daerah, sehingga dibutuhkan reaksi kecepatan TNI yang harus hadir minimal empat jam setelah terjadi bencana.

“Tentu saja output dan outcome Kogabwilhan sudah diperhitungkan melalui berbagai macam simulasi untuk melaksanakan berbagai macam operasi militer perang (OMP) dan operasi militer selain peang (OMSP), termasuk di dalamnya adalah simulasi penganggaran agar pembentukan dan operasionalisasi Kogabwilhan tidak menjadi beban keuangan negara. Beberapa perspektif dan teori keamanan nasional telah dikaji untuk menilai berbagai kriteria dan parameter efektifitas Kogabwilhan,” ujar Nuning.

Nuning meyakini bahwa TNI telah melakukan kajian yang mendalam untuk meningkatkan interoperability ketiga matra TNI ke dalam Kogabwilhan. Luasnya wilayah Indonesia menjadi dasar pembentukan tiga Kogabwilhan agar rasio efektifitas dan efisiensi benar-benar mampu menjawab kebutuhan di lapangan.(Red)
Share This :

0 komentar